Bertumpuk-tumpuk kenangan tersimpan rapi
di setiap ruang yang kita cipta
Namun hanya satu yang terbingkai mesra
Tak lazim caramu mendewasakanku
Teresapi dalam setiap relung malam
Pada riuh angin yang mesra bersenggama bersama
gemerisik dedaunan
Karena silam waktu tak lagi menghalang
oleh hati yang terelakan meski diam begitu menghujam
Biarlah adanya tetap jujur berbaik sangka
Gerhana hati pastilah pergi
Karena putih hati telah kau pinjami
Selamanya...
Dan pada senja yang memikat,
meski diam tergugu
Engkau tetaplah seperti yang aku rindu
PUASA, ARAK dan KEKUASAAN
Kita segera akan memasuki bulan Ramadhan, hari-hari yang mengasyikkan bagi orang-orang yang mencari kesejatian hidup, saat-saat yang menggiurkan bagi setiap manusia yang sadar melakukan peperangan terhadap dunia, nafsu, milik, kekuasaan, dan kesombongan. Allah berkali-kali mengiming-imingi surga, sungai susu, kebun hijau, bidadari dan hidangan-hidangan. Itu adalah idiom tentang surga berdasarkan kepada konteks pengalaman budaya masyarakat Arab yang pasti berbeda dengan “idiom surga”-nya orang Jawa, misalnya.
Jika orang Jawa mengobsesikan surga, maka formula yang muncul di benaknya bukanlah sungai, karena kita sudah kaya dengan sungai. Bukan pula bidadari, karena alam kita sudah menyediakan “bidadari-bidadari”. Surga orang Jawa mungkin juga tidak sama, bergantung pada kondisi masing-masing. Bagi orang yang sudah terlalu kenyang dengan kekuasaan dan kesejahteraan, surga adalah kemerdekaan dan kesederhanaan. Bagi orang lain yang yang di hardik-hardik untuk hengkang dari tanah nenek moyangnya, surga itu sederhana saja, ketentraman hidup di rumah keadilan. Surga itu nilai, surga itu kualitas. Format budayanya bisa berbeda-beda sesuai dengan lokal-lokal persoalan manusia dan masyarakat.
Tuhan berkali-kali mengiming-imingi surga. Tapi Dia mengerti dan memang menciptakan demikian, bahwa arti kehidupan antara lain adalah kesanggupan untuk melakukan segala iming-iming surga itu suatu kesengajaan agar manusia melakukan transendensi atasnya, kemudian mencari, merindukan, dan mengejar sesuatu yang lebih hakiki, sejati, serta kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya.
Allah memberi peluang bagi tiga kemungkinan atau tiga level kemusliman. Terserah kepada manusia akan memilih yang mana. Ada – kalau saya memakai term aktual –“Muslim Birokratis”, ada “Muslim Kapitalis” dan ada “Muslim”.
Yang pertama dalam khasanah tasawuf, di sebut “Muslim Rahbani”: Manusia yang melakukan peribadatan karena perturan dan rasa takut. Disebut “birokratis” karena motivasi ibadahnya mirip dengan psikologi pegawai yang berorientasi pada presensi.
Yang kedua disebut “ Muslim Hayawani”. Di asosiasikan pada kapitalisme karena ibadah diposisikan sebagai “capital”. Ia melakukan shalat, puasa, memberi zakat dan seterusnya, agar memperoleh laba yang bernama pahala. Muslim jenis ini adalah pedagang yang bernegosiasi kapitalistik dengan Allah. Terminologi yang dipakai adalah untung rugi. Surga adalah keuntungan, neraka adalah kerugian. Tidak beribadah, tidak menjalankan perintah Allah, dan melanggar larangan-larangannya berati merintis kebangkrutan. Jadi, seluruh perilaku keagamaan yang dilaksanakannya menyangkut kepentingan untuk tidak mengalami “defisit akherat”.
Pada level syariat format, dua tingkat kemusliman ini masih tetap di terima Allah. Mengucapkan syahadat sudah membuat seseorang berstatus muslim, meskipun dalam praktek hidupnya belum tentu ia menomorsatukan Allah. Asal melakukan shalat lima waktu, seseorang sudah bisa di sebut muthi’ atau loyal kepada norma Islam, meskipun belum tentu ada interaksi fungsional antara shalat resminya dengan sepak terjang kehidupan konkretnya. Betapa sayangnya Allah kepada manusia, mahluk yang dibuatNya tertinggi dan termulia.
Tetapi iming-iming “transparan” yang sering dilupakan atau diabaikan Muslimin, oleh fatwa-fatwa ulama, oleh pelajaran mengaji, serta oleh kurikulum persekolahan Islam, baik di pesantren atau di Madrasah Islam Modern, ialah perjumpaan dengan Allah. Liqa’ Rabb,perjumpaan agung dan indah dengan si Maha Penyantun yang menggembalakan semua gejala hidup manusia. Inilah jenis muslim ketiga,”Muslim Rabbani”.
Penyair Rabiah Al-Adawiyah menangis - “Kalau ibadahku ini aku lakukan untuk mengharap surgaMu, Ya Rabbi,campakkanlah aku ke dalam api ganasMu. Kalau ibadahku ini aku lakukan karena takut kepada nerakaMu, Ya Rabbi, tutuplah pintu surga bagiku…”. Rabiah menginginkan Allah. Hanya Allah. Bukan rindu laba. Ia tidak diperbudak oleh kengerian, terhadap ketidak kekuasaan, terhadap kejatuhan ke kerak neraka, apalagi kejatuhan dari kursi jabatan dunia.
Seperti telah menjadi bagian dari penghayatan kaum muslimin di segala zaman, bahkan Ibrahim a.s menunjukkan betapa besar jiwanya tatkala harus mengorbankan putra kesayangannya. Dan Ismail a.s sendiri sepenuhnya merelakan nyawanya kepada Allah yang memintanya.
Di atas saya menyebutkan jenis ini dengan kata “Muslim” saja,karena konsep filosofis dan epistimologis kemusliman memuat makna kepasrahan total hanya kepada Allah. Kepasrahan kepada Allah berarti ketidakpasrahan terhadap yang selain Allah. Manusia yang mengabdi hanya kepada Allah mungkin harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang memusuhi Allah di dunia. Ia mungkin harus berperang, mungkin terpaksa di benci, disingkirkan, difitnah, dan dilemparkan. Dan yang melempar “Muslim” mungkin tidak harus kekuatan ateistik atau kekuatan-kekuatan non-Islam lainnya, melainkan ia sangat mungkin ia digeleparkan juga nasibnya oleh sesama Muslim yang berada pada level Rabbani atau Hayawani.
Apa yang “Muslim” peroleh juga bisa kejayaan dan kekayaan, tapi bisa juga ketiadaan harkat duniawi, kepapaan, dan kehinaan di mata dunia. Namun itulah “biaya” yang harus ia bayarkan untuk memperoleh keabadian bersama Allah, kesejarteraan, dan kebahagiaan sejati. ”Muslim” tak perlu menunggu tua turun jabatan untuk menginsyafi bahwa kekuasaan dunia, bahwa deposito bermilyar rupiah, bahwa genggaman senapan di tangan, sungguh hanya berlaku sementara. Betul-betul akan luluh hanya dalam beberapa tahun dan alangkah sebentarnya itu.
“Muslim” mengetahui bahwa “kapitalisme peribadatan” pada akhirnya justru akan menghasilkan defisit dan kebangkrutan ukhrowi yang serius dan total. Di dunia pun sudah amat sempit peluang untuk menikmati kepalsuan-kepalsuan itu apalagi di akhirat.
Oleh karena itu, memasuki bulan Ramadhan, sungguh sungguh merupakan momentum yang mengasyikkan untuk bercermin kembali. Untuk meluncurkan sinar “rotgen” ruhaniah ke dalam realitas batin dan kasunyatan hidup yang kelak di jalani. Mekanisme dan penghayatan puasa adalah saat-saat paling jernih untuk meneropong hama-hama wereng di dalam bathin kita,kutu-kutu loncat di galaksi mentalitas kita, serta cecunguk-cecunguk di dalam kosmos kepribadian kita. Dengan ditemukannya berbagai virus dan kuman seharah di dalam kasunyatan diri itu, otomatis akan tampak juga sumber-sumber yang menyebabkannya. Baik sumber eksternal, yakni segala iming-iming duniawi struktural sistemik, hedonism, megalomania, kepalsuan rasa kuasa yang dipompa-pompakan oleh alam sekitar, maupun sumber-sumber internal yang berupa natur nafsu-nafsu itu sendiri.
Di hari-hari pertama puasa, seseorang masih punya “argumentasi” untuk menutup-nutupi atau memaaf-maafkan kuman-kuman itu. Tetapi sesudah pertengahan Ramahan, jika puasa dilakasanakan sungguh-sungguh total lahir batin, insya Allah ia akan lebih sumeleh, lebih lathif, lembut, jernih, dan kemudian muncul hakikat kebersamaan jiwanya untuk mengaku merasa bersalah di hadapan dirinya sendiri serta di hadapan Allah. Kecuali jika manusia memilih kehancuran. Baik kehancuran di mata orang lain, di mata pergaulan, maupun kehancuran yang diam-diam namun tajam dan menusuk dari dalam dirinya sendiri.
Puasa sering dilambangkan sebagai “air arak”, khamr.
Intinya: proses peragian. Ketela di ubah menjadi tape.Manusia berpuasa untuk mengubah dirinya menjadi sumeleh. Dan sumeleh adalah kemenangan sejati atas dirinya sendiri. Sejarah akan mencatatnya dengan tinta yang tidak mengandung kehinaan. Puasa mempertemukan manusia dengan sejatinya ketiadaan. Puasa mempertemukan manusia dengan dimensi lapar dan dahaga. Dalam pertemuan itu,, ia bukan saja bisa menghayati nasib orang yang kelaparan atau yang di bikin kelaparan dan kehausan, tetapi juga membuat para penghayat puasa untuk menemukan “makanan sejati”.
Dikutip dari buku Surat Kepada Kanjeng Nabi - Emha Ainun Nadjib (1997)
KINASIH
Dear...I miss you very muchDamai kami sepanjang malam
dan segala waktu, engkau ada lalu menghilang
Damai kami sepanjang malam
dan segala waktu, hanya lagu yg tertinggal mesra mengalun
Damai kami sepanjang malam
dan segala waktu, hadirmu memberi harapan,
menjasad indah tanpa kata yg mesti diucapkan
Engkau tetap ada disini seperti ratusan malam lalu
dan jutaan hari yang akan datang,
tak lagi perlu perkenan mewujud janji yang terentang
Meski sepimu membunuh jiwaku,
dan air mata penyaksi mengenyahkan ketidakberdayaanku
namun air mata itu telah pula menegarkanku
Tak perlu lagi doaku di dengar, tak harap lagi pinta tercipta,
jika hidup hanya butuh keikhlasan
Tuhan pun akan memantaskan kemanusiawianku
Selamat jalan ketidak relaan,
sambutlah keikhlasan, sekarang atau tidak selamanya
karena kelak kau akan tahu kebenarannya
Aku hanya ingin menjadi matahari, aku hanya ingin menjadi lilin
Hanya doa sederhana, tak ada yang istimewa
Selamat Tahun baru 2011 Kinasihku
Kinasih, tetap akan aku sebut namamu,
meski tak ada lagi sapa, meski kalimat tersusun terbata-bata
Kinasih, hanya kata yang mungkin tak ada artinya bagimu,
namun jangan dendam kehidupan yang tersemat
dimaklumkan kepada yang tak tahu apa-apa
Kinasih, sebuah penyadaran tentang hak menerima rasa kasih,
melewati batas ambang kesadaran tanpa merasa disepelekan
Kinasih, dia teramat memuja kesederhanaan,
namun mampu menuntun jiwa tanpa harus merasa kehilangan meski sesaat waktu
Kinasih, seperti sebuah pena
dia sanggup merangkai jutaan kata,
namun hanya satu akhir tujuanya, menjadi semesta bagi kehidupan
Kinasih, engkau tak akan pernah pergi,
ini bukan tentang air mata atau kesedihan
namun ini tentang apa yang telah tertanam, dalam benak dan ucapan
Kinasih, dia berani menghadapi keadaan,
segores kata akan dia simpan selamanya
Kinasih, ikatan tetap menjadi simpul dalam keindahan tanpa simbol
Kinasih, jika suatu saat aku mendahului kehidupanmu
Sudilah kiranya engkau menjenguk pusaraku
Bawakan aku setangkai mawar berkuntum indah putihnya melati
Kinasih, aku berharap tak akan kau teteskan air matamu di pusaraku
Cukuplah engkau kecup mesra batu nisanku
Cukuplah engkau berdoa semoga Tuhan
memperkenankan kita bertemu kelak di surga
VARUNA AMRITA
Jelang senja, hujan masih menanda Desember
Namun dingin tak lagi menelusup tulang
Buah angan tertinggal dalam sepenggal khayal
Katamu, akulah yang selalu kau rindu
Tentangku, akulah hasrat kasihmu
.................................................
Diam, terperangkap di sambut hening malam
Tenang, semestinya menembus ketiadaan
Kelam, langkahmu beku, meniada
dalam jejak yang engkau hapus sendiri
Aku sapa engkau hanya menjelma rasa
Aku teriak engkau seolah melena
Hanya bermenung, menatap kosong amarah
laksanaku hanya sementara bersinggah
.................................................
Sita Sarma Avara Asa...
Kemana lagi kalimat itu
Berpenghujung atau pungkas dalam sekelebatan
Bukankah hening malam selalu ingin engkau peluk,
Bukankah keabadian adalah jalan menujuNya
.................................................
Namun selalu lah engkau ingat seperti aku ungkap
Kata seorang bijak yang selalu ku genggam erat
"Ketika Tuhan berharap untuk menolong
Dia membiarkan kita bersimbah air mata
Namun air mata untukNya membawa
kebahagiaan dan menghasilkan tawa
Siapa yang mengharapkannya adalah hamba Tuhan
Kemanapun air mengalir, kehidupan menghijau
Kemana air mata jatuh, keagungan Illahi dipersaksikan"
Namun dingin tak lagi menelusup tulang
Buah angan tertinggal dalam sepenggal khayal
Katamu, akulah yang selalu kau rindu
Tentangku, akulah hasrat kasihmu
.................................................
Diam, terperangkap di sambut hening malam
Tenang, semestinya menembus ketiadaan
Kelam, langkahmu beku, meniada
dalam jejak yang engkau hapus sendiri
Aku sapa engkau hanya menjelma rasa
Aku teriak engkau seolah melena
Hanya bermenung, menatap kosong amarah
laksanaku hanya sementara bersinggah
.................................................
Sita Sarma Avara Asa...
Kemana lagi kalimat itu
Berpenghujung atau pungkas dalam sekelebatan
Bukankah hening malam selalu ingin engkau peluk,
Bukankah keabadian adalah jalan menujuNya
.................................................
Namun selalu lah engkau ingat seperti aku ungkap
Kata seorang bijak yang selalu ku genggam erat
"Ketika Tuhan berharap untuk menolong
Dia membiarkan kita bersimbah air mata
Namun air mata untukNya membawa
kebahagiaan dan menghasilkan tawa
Siapa yang mengharapkannya adalah hamba Tuhan
Kemanapun air mengalir, kehidupan menghijau
Kemana air mata jatuh, keagungan Illahi dipersaksikan"
IBUNDA YTH (III)
Menenun kembali petang hari
Merenda kain cahaya redup rembulan sabit
Namun saujana tetaplah menyulam keindahannya
Sepanjang hari sepanjang malam
Ku ketuk pintumu, membuka jendela per jendela
Sepi ...
Ibu, anakmu rindu membaui keringatmu
Melihatmu mengayak kehidupan
Menyapamu di setiap ketiak langit Tuhan yg merentang
Ibu, anakmu rindu senyummu
Berjuta doa, melaksa dalam sepi
Menumpah segala airmata dalam keranda kehinaanku
Ibu, anakmu masih rindu merasakan lagi pagutan jenak-jenak nafasmu
Di terpa kasih di setiap helaan peluk hangat
Dan merdu pesan cintamu
Ibu, anakmu terlalu rindu kepadamu
Bawalah aku selalu di kepantasanmu di tiap tetirah doa-doamu
Ibu, anakmu masih rindu ketika kau meratapiku
Membagi ketegaran mendewasakanku
Mengusapi air mata, mengajariku makna hidup dan kehidupan
Ibu, pagi ini anakmu masih menggunung rindu
Seperti ribuan tahuh yang lalu
Seperti pada saat kau menampakkan wujudku
Menghirup desah nafas Tuhan
Ibu, di dinihari yang menyisakan ketenangan ini
Anakmu masih saja rindu hangat pelukanmu

Ditulis pada tanggal 01 September 2010
Merenda kain cahaya redup rembulan sabit
Namun saujana tetaplah menyulam keindahannya
Sepanjang hari sepanjang malam
Ku ketuk pintumu, membuka jendela per jendela
Sepi ...
Ibu, anakmu rindu membaui keringatmu
Melihatmu mengayak kehidupan
Menyapamu di setiap ketiak langit Tuhan yg merentang
Ibu, anakmu rindu senyummu
Berjuta doa, melaksa dalam sepi
Menumpah segala airmata dalam keranda kehinaanku
Ibu, anakmu masih rindu merasakan lagi pagutan jenak-jenak nafasmu
Di terpa kasih di setiap helaan peluk hangat
Dan merdu pesan cintamu
Ibu, anakmu terlalu rindu kepadamu
Bawalah aku selalu di kepantasanmu di tiap tetirah doa-doamu
Ibu, anakmu masih rindu ketika kau meratapiku
Membagi ketegaran mendewasakanku
Mengusapi air mata, mengajariku makna hidup dan kehidupan
Ibu, pagi ini anakmu masih menggunung rindu
Seperti ribuan tahuh yang lalu
Seperti pada saat kau menampakkan wujudku
Menghirup desah nafas Tuhan
Ibu, di dinihari yang menyisakan ketenangan ini
Anakmu masih saja rindu hangat pelukanmu

Ditulis pada tanggal 01 September 2010
Antara SBY dan SBYeah
Beberapa bulan terakhir ini nama Presiden RI SBY memang sedang melambung tinggi, mengiringi melambungnya harga-harga kebutuhan pokok saat Ramadhan dan menjelang hari Raya Idul Fitri. Tak kurang dari masyarakat kalangan bawah (bawah sekali seperti saya) hingga para petinggi negeri yang lebih mempunyai banyak kepentingan untuk angkat bicara.
Dari komunitas wedangan alias angkringan, sekedar kumpul-kumpul, dari media cetak sampai elekronik setiap saat pun memperbincangkan SBY. Bahkan tetangga saya yang - maaf - hanya tukang batu pun ikut - ikutan ngrasani, katanya begini," SBY ki karepe piye to, aku entuk duit kok ora cukup di nggo blonjo". Maksudnya kira - kira "SBY itu maksudnya gimana sih, aku dapet uang kok tidak bisa mencukupi belanja harian".
Dan tak ketinggalan pula intensitas dunia maya mau tidak mau merangkak naik untuk tidak ketinggalan memperbincangkannya, dari sekedar ngomongin SBY yang - katanya - seneng curhat, ngrasani tentang apa yang sudah terjadi pada saat peringatan Hari Kemerdekaan RI, tentang ledakan gas yang banyak makan korban. Dan masih banyak yang lainnya, segala macam tetek bengek (ada yang tahu kenapa di sebut tetek bengek) persoalan bangsa ini.
Tak banyak yang saya akan tulis di sini, saya hanya akan sekedar share dengan apa yang terjadi di dunia maya, terutama dari Social Networking yang terkenal di Indonesia selain Facebook maupun Kompasiana ini, yaitu dari dunia persilatan Twitter. Kalau Anda semua masuk menjadi anggota persilatan Twitter kemungkinan tidak akan melewatkan akun berikut ini, yaitu akun resmi Presiden SBY berisikan kegiatan yang diupdate dari Situs Resmi Presiden Republik Indonesia. Inilah mungkin salah satu cara SBY memaklumatkan kegiatan dan opini-opininya. Kalau saya jadi Presiden pasti juga akan melakukannya, paling tidak Presiden Rumah Tangga nantinya.
Dan dari sekian ratus ribu akun di Twitter, saya menemukan akun yang bertolak belakang dengan kegiatan SBY, kurang tahu maksud akun ini apa, tapi yang jelas sangat menggelitik sekaligus menghibur, karena isi What's Happening_nya kontra banget dengan akun aslinya, berisi banyak plesetan - plesetan dari kejadian maupun kegiatan SBY, misalnya "ini acara sambutan mulu. saya kapan nyanyinya?!" atau "Pesan saya; walaupun anda tidak cinta saya, tetaplah cinta tanah air. Sekarang saya minta diri dulu. Besan ngajakin karaokean."
Saya sudahi dulu ya, mendingan langsung ke TKP :
@sbyeah
@presidensby
Follow saya nanti di Folbek, 100 % dijamin :
@anasmara
Tulisan ini juga bisa di baca :
KompasiAnas
RAMADHAN KEBANGSAAN
Berpengharapanlah engkau dalam setiap keadaan, dengan segenap rasa yang tulus berbalut doa sehingga membawa kedamaian meskipun mereka tak sepenganut faham denganmu. Dalam suasana yang demikian berduka, di tengah derap langkah kemiskinan yang semakin hari semakin menganga, wabah penyakit, baik penyakit hati maupun penyakit yang makin beragam jenisnya, di tengah konflik kebangsaan dan pertentangan antar elemen masyarakat. Diantara orang-orang yang tidak berdosa melawan dzalimnya penguasa yang hingar bingar menginjak harkat dan martabat bangsanya sendiri.
Bangsa kita dulu di kenal ramah, Indonesia kita disegani oleh banyak bangsa karena kekayaan alam, budaya, dan keanekaragaman hayati. Namun sekarang krisis tengah melanda, dari krisis moral, krisis ekonomi, hingga krisis kepemimpinan. Rakyat seperti tidak berdaya, ditonjok muka, di injak nurani oleh wakil-wakil mereka sendiri. Inilah saat yang tepat melakukan kontemplasi, bulan perenungan, seperti 65 tahun yang lalu saat proklamasi kemerdekaan bangsa ini dikumandangkan oleh Soekarno - Hatta, dengan situasi dan kondisi yang sangat sederhana. Entah suatu kebetulan atau Allah punya rencana apa, tanggal 17 Agusuts 1945 bertepatan dengan hari Jumat tanggal 17 Ramadhan1365 H (Wikipedia), di mana pada tanggal 17 Ramadhan adalah bertepatan dengan diturunkannya Al Quran. Namun mengapa cita-cita itu sangat berbalik arah dengan kondisi saat ini, yang demikian gemerlap meski harus – sekali lagi – menginjak harkat dan martabat saudara sendiri. Mari kita bertanya pada diri kita sendiri?Maka tidak berlebihan kiranya di bulan yang suci ini, Ramadhan Mubarok, Ramadhan Karim, bulan diturunkannya kitab suci Al Quran atau apapun sebutannya, kiranya menjadi tonggak awal kembali, menanam dan menuai tanaman-tanaman kebajikan, bersantun harap saling mengasihi, merangkai serpihan rasa kebangsaan yang telah terkoyak kepentingan diri dan golongan, bermenung dalam segala pengharapan dan menyatakan dalam segala perbuatan seperti yang telah Sang Pencipta wajibkan kepada setiap insan agar menjadi khalifah di bumi, menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan orang lain.
Seperti yang telah tertulis dalam Al Quran Surat Al Baqarah :
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah [2]: 183)
Inilah kewajiban, mengharuskan kepada umat untuk ikhlas menjalankan, kesucian jiwa dan rasa takut yang sebenar-benarnya. Karena hanya Allah dan kita saja yang tahu apakah kita benar-benar menjalankan atau sekedar ikut-ikutan. Inilah sebenarnya yang Allah ingini, jika saja semua elemen bangsa sanggup menjalankan hal ini, mengayuh perahu Nasionalisme bersama-sama, dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan seperti halnya kewajiban Ramadhan yang semestinya di jalankan dengan rasa ketaqwaan, niscaya segala macam wabah, penyakit hati dengki, srei, jahil dan methakil yang mengagung-agungkan kedzaliman, cinta dunia dan harta benda tak akan ada atau paling tidak prosentasenya akan jauh berkurang keadaannya.
Tidak seperti sekarang, terkadang sulit mendiskripsikan, pemimpin-pemimpin kita ini sebenarnya mau membawa kemana anak-anak bangsa yang berserakan, kelaparan di tengah megahnya gedung, mengharap ratusan perak di balik tirai dan mengkilapnya kaca mobil-mobil orang kaya, terpasung di bui keindahannya sendiri. Meski bocor perahu ini akan dilabuhkan kemana, bingung mencari pelabuhan atau memang tersesat di lautan yang tenang. Lalu ke mana amanat UUD ’45 itu harus dialamatkan?
Setiap agama mengajarkan kebaikan, setiap hati dan jiwa mendamba kedamaian dan setiap Ramadhan semestinya bisa menjadi cermin untuk ke depan, di sebelas bulan yang akan datang. Saya bukan orang pintar atau orang suci yang sok memberi pengajaran tentang kebajikan, namun sekiranya ini bisa di terima, hadapkanlah wajahmu kepada Sang Pencipta untuk tetap saling mendoakan, saling berkasih sayang lalu dengan tulus tetap menjaga keharmonisannya.
Dan ingatlah ketika Rasulullah memberi berita yang menggembirakan kepada umatnya dalam sebuah hadits : Sungguh, kebahagiaanlah bagi orang-orang yang melalui bulan (Ramadhan) ini dengan berpuasa, beribadah, dan melakukan amal kebaikan (amal sholeh).
Another Version Click This : Ramadhan Nationality

S A K U
SaKu, dengarlah satu paparan ceritaku
Di dalam kejenuhan, kegelisahan dan rasa muakku
Aku ingin membagi semua perasaan yang ada padaku
Aku ingin membebaskan belenggu hatiku
Aku ingin membuang duka laraku
Aku ingin kau dengarkan jerit hati yang terhempas
Aku tidak pernah tahu lagi, apa yang menjadi mimpiku
Aku tidak pernah tahu lagi,
apa yang menjadi asaku untuk hari ini dan esok
SaKu, masihkah kau dengarkan paparanku
Di sepi hari tak bertepian
Masihkah ada jejak yang mesti ku ikuti
Masihkah ada genggaman tangan tulus mengamitku
Masihkah ada tumpuan di atas kaki yang pecah tertusuk belati hati
Masihkan ada hari depan yang hanya terobsesi
SaKu, andai aku bisa menangis
Di dalam pelupukku kau yang pertama tahu
Tapi aku menangis untuk apa
Tapi aku menangis untuk siapa
SaKu, dengarlah pinta tulusku padamu
Bagilah ketegaran di rasa capai otakku
Berilah sentuhan batin tulus di jiwa telah terkoyak
Doakanlah dengan rasa kasih buat nuraniku yang merapuh
SaKu, semoga kau tak jemu karena rasa yang menggila ini
Judul asli : Sahabatku
Solo Nite Life 02 : 05 : 1996 / 01 : 45 am
Langgan:
Entri (Atom)






